1800-: Terutama di akhir abad, kemunculan gerakan perdamaian yang terorganisasi
1900-: Landasan riset perdamaian yang terorganisasi dan ilmiah. Ekonom Polandia Jean DE BLOCH (w. 1902), La Guerre atau ringkasannya, The Future of War (terbit pertama kali 1898); (Sir) Norman ANGELL (Peraih Nobel Perdamaian 1933), The Great Illusion (1910); dua karya penting di awal abad ini yang menegaskan perang di antara negara-negara besar, karena alat-alat pembunuh dan penghancurnya semakin canggih, sudah menjadi sesuatu yang “impossible” dalam arti tidak ada gunanya, irasional, perbuatan bunuh diri sia-sia, atau seperti disebut judul karya Angel yang pemenang Hadiah Nobel itu. de Bloch adalah peneliti perdamaian, pendidik perdamaian dan pemimpin gerakan perdamaian, berperan penting di balik keputusan Tsar Rusia mengadakan konferensi perdamaian di the Hague 1899 dan pembentukan Musium Internasional Perang dan Perdamaian di Lucerne.
Alfred H. FRIED dari Austria, pemenang Nobel Perdamaian (1911), menyebarkan gagasan de Bloch dan mengikutinya dalam hal merintis studi-studi perdamaian yang ilmiah dan rasional (tidak berdasarkan argumen-argumen agama). John MUELLER, mungkin dapat dianggap seorang dari tradisi “realis”, menulis Retreat from Doomsday. The Obsolescence of Major War (1989), yang antara lain mengemukakan tesis yang dulu diutarakan de Bloch dan Angell.
Figur lain dari awal abad ini adalah Georg SIMMEL, dengan gagasan tentang konflik yang fungsional dan crosscutting cleavages yang sangat penting. Tahun 1956, Lewis COSER mempopulerkan Simmel lewat The Functions of Social Conflict, karya yang belakangan, di tahun 1960-an dan dengan latar Perang Vietnam, menjadi bestseller.
1901: Nobel Perdamaian mulai diberikan kepada perorangan atau lembaga yang dianggap berjasa di bidang perdamaian.
1908, 1920, 1930-: Mohandas Karamchand GANDHI dengan banyak ide dan praktek nirkekerasan (NK) di Afrika Selatan dan kemudian di India; gagasan satyagraha, dan aksi langsung NK sangat berpengaruh. Gerakan protes NK dapat berhasil jika dilaksanakan dengan disiplin. Gandhi menjadi orang pertama dalam sejarah yang berhasil menggalang gerakan NK berskala besar dalam masa yang lama.Satyagraha, atau setia pada kebenaran, merupakan prinsip etika (atau virtue?) yang ditandai dengan: tindakan NK yang bertanggungjawab, menghormati musuh, terbuka pada pendapat orang lain, usaha mencari solusi kreatif yang dapat diterima semua pihak yang terlibat konflik; mengarahkan sasaran pada kekerasan struktural; penekanan pada problem-solving.
1923: War Resisters League didirikan. Ini adalah organisasi antiperang terbesar di AS pada masanya dan masih aktif hingga kini. Jaringan internasional mereka bernama War Resisters International. Awalnya, fokus mereka adalah antiperang, antiwamil, dan antinuklir. Kini fokus mereka adalah gerakan nirkekerasan serta penghapusan kekerasan kultural dan struktural.
1926: Quincy WRIGHT di University of Chicago memulai proyek maha besar riset ilmiah (termasuk kuantitatif) sebab-sebab perang. Hasilnya keluar 1942, A Study of War (dua volume, daftar isinya saja 16 hal.). Anggapan bahwa studi perang yang ilmiah diperlukan untuk memelihara perdamaian cukup populer. K.W. DEUTSCH mengatakan A Study of War sama pentingnya dengan karya Grotius, On the Law of War and Peace lebih tiga ratus tahun sebelumnya. Nama-nama lain dalam tradisi riset ilmiah perang adalah Lewis Fry RICHARDSON dengan dua karyanya Arms and Insecurity dan Statistics of Deadly Quarrels (1960) yang menggunakan model matematika dan inferensi statistik dalam studinya dan (dalam masa yang lebih belakangan) J. David SINGER dengan The Correlates of War Project-nya di Universitas Michigan (tahun 1960-an)
1930-an: Pitirim SOROKIN di Universitas Harvard mengkaji perang sejak zaman Yunani dan Romawi, dan mengawali studi tentang perang sebagai fenomena sosial; gagasan tentang dinamika sosial dan budaya di balik perang dan damai, dalam karyanya Social and Cultural Dynamics (1937).
1942: Penerbitan karya Mary Parker FOLLETT, Dynamic Administration. Follet ialah penganjur pendekatan konstruktif dan kreatif dalam resolusi konflik. Juga berpengaruh dalam manajemen, negosiasi, dan tawar-menawar. Follet sebenarnya wafat 1933, dan dua karya pentingnya terbit tahun 1924 (Creative Experience) dan 1918 (The New State: Group organizations the solution of popular government). Penerbitan kumpulan tulisan dan ceramahnya di atas lama setelah wafatnya mengawali besarnya perhatian terhadap pikiran-pikiran Follet tentang cara-cara integratif (salah satu pengertian NK) penyelesaian konflik. Konfrontasi kepentingan, menurutnya, berujung kepada empat hasil: (1) salah satu pihak menyerah suka rela; (2) pertarungan dan kemenangan satu pihak atas pihak lain; (3) kompromi; (4) integrasi. Follet adalah peneliti dan aktivis yang sangat berpengaruh di bidang keempat. Dalam era “feminis”, Follet terlahir kembali. Penulis lama lainnya tentang cara-cara NK menjapai tujuan adalah Stuart CHASE, penulis Roads to Agreement.
1940-an: di Eropa ada David MITRANY dengan Fungsionalisme sebagai mekanisme penyelesaian konflik regional.
1940-an: Kurt LEWIN, tentang field theory; contact hypothesis; dan the practical theorist yang menjadi sumber inspirasi di kalangan psikologi pengkaji perdamaian. Awal tradisi riset perang dan perdamaian di kalangan psikolog.
1944: VON NEUMAN dan MORGENSTERN menerbitkan Theory of Games and Economic Behaviour, berpengaruh dalam tradisi riset yang menggunakan teori permainan dan pilihan rasional dalam kajian-kajian perang, negosiasi, dan hubungan internasional.
1946: RAND Corporation dibentuk, dalam tradisi studi-studi strategi; banyak penelitian dan karya tentang teori permainan, teori deteren, dan counterinsurgency, dan lain-lain. Thomas C. SCHELLING bekerja pada Rand ketika menerbitkan The Strategy of Conflict yang terkenal dan berpengaruh.
1948: Paris, UNESCO melancarkan Project on Tensions Affecting International Understanding, mengawali “pendekatan UNESCO” terhadap perdamaian dan masalah perlombaan senjata. Pada tahun 1957, terbitlah The Nature of Conflict dari proyek ini, melibatkan Jessie BERNARD, Robert C. ANGELL, T.H. PEAR, dan Raymond AROND. Pendekatan UNESCO berintikan pertukaran budaya, komunikasi, dan program pendidikan sebagai sarana membina toleransi, rasa saling percaya, dan saling pengertian internasional dalam menghadapi perang dan perlombaan senjata ala Perang Dingin. Anggapan dasarnya ada dalam Konstitusi UNESCO: “wars begin in the minds of men” dan bahwa “it is in the minds of men that the defences of peace must be constructed.” Pendekatan ini cukup banyak dianut, terutama di kalangan pendidikan.
1957: Terbitlah Journal of Conflict Resolution dari University of Michigan. Di sini berkumpul tokoh dan peneliti perdamaian Robert C. ANGELL, Daniel KATZ, Inis J. CLAUDE, Kennenth BOULDING, Anatol RAPOPORT, J. David SINGER, dan banyak lagi. Di Michigan juga ada proyek riset terkenal, yaitu the correlates of war project. Belakangan, karena tidak ada uang, JCR hijrah ke Yale di bawah Bruce RUSSETT dan JCR menjadi semakin “ilmiah” dalam arti kuantitatif. JCR adalah jurnal berpengaruh di bidang resolusi konflik.
1950-an: Elmore JACKSON dan gagasannya tentang “Meeting of Minds”. Jacskson juga merintis berbagai inisiatif perdamaian di Timur Tengah;
Karl Wolfgang DEUTSCH mengawali berbagai studi tentang teori integrasi regional, komunikasi dan nasionalisme, dan masyarakat keamanan;
Robert C. NORTH, Dina ZINNES, dan kawan-kawan dari Stanford University memulai Project on International Conflict and Integration;
Awal 1950-an berdiri Institute for Social Research di Oslo, Norwegia, dan menerbitkan The Science of Peace.
1957: Pugwash Conference, rangkaian pertemuan internasional dengan fokus pada demiliterisasi dan denuklirisasi.
1959: Johan GALTUNG mendirikan PRIO di Norwegia yang, berbeda dengan studi-studi perdamaian sebelumnya yang menekankan “perdamaian negatif” dalam arti perdamaian sebagai ketiadaan perang, memperkenalkan “perdamaian positif” dalam arti ketiadaan kekerasan struktural. Galtung memperkenalkan banyak konsep berpengaruh, seperti konflik asimetris dan teori struktural konflik. Tahun 1964 PRIO menerbitkan JPS dan kemudian Bulletin of Peace Proposals (sudah ganti nama menjadi Security Dialogue). Di Lancaster, Inggris, berdiri Richardson Peace Research Center, dan di Kanada Hannah Newcombe membentuk Peace Research Institute di Dundas.
akhir 1950an: Di Inggris berdiri Campaign for Nuclear Disarmament. Organisasi inilah yang memperkenalkan simbol yang nantinya menjadi simbol gerakan perdamaian. Hingga kini, CND masih aktif melakukan pendidikan, kampanye, aksi nirkekerasan (boikot, demonstrasi, dll), dan advokasi kebijakan di bidang perdamaian.
1960: Darthmouth Conference dan berbagai kegiatannya mulai.
1960-an: Perang Vietnam yang terus berlanjut ke dasawarsa sesudahnya melatari berbagai aktivisme dan riset perdamaian.
Di awal dasawarsa ini, muncul SIPRI di Swedia yang menekankan perdamaian negatif, perlombaan dan perlucutan senjata, dan persoalan-persoalan keamanan internasional.
Di Universitas Groningen, Belanda, muncul Polemological Institute dipimpin Bert ROLING.
Harold GUETZKOW dari Northwestern University mengawali riset-riset di bidang simulasi dan kegunaannya dalam hubungan internasional dan studi-studi perdamaian, perang, dan negosiasi.
Leonard DOOB dan Bill FOLTZ, keduanya dari Universitas Yale, mempopulerkan pendekatan Workshops untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, dengan menerapkanya di Afrika;
Muzaffar SHERIF, seorang psikolog memperkenalkan arti penting superordinate goals dalam suatu riset panjang tentang dinamika kelompok dalam konflik.
Di London (University College), John BURTON memperkenalkan Problem Solving Workshops, termasuk yang melibatkan Indonesia, Malaysia, dan Indonesia dalam kasus Konfrontasi. Burton kemudian hari berperan besar membentuk pusat-pusat studi perdamaian dan konflik di universitas-universitas Kent, Maryland, George Mason, dll.
1961: Charles OSGOOD dengan ide-ide deeskalasi, seperti strategi GRIT-nya dan pencarian alternatif NK terhadap perang nuklir.
1962: Journal of Arms Control terbit. Pada mulanya diterbitkan Council of Peace Research in History dan belakangan diterbitkan bersama the Consortium on Peace Research, Education and Development (COPRED)
1964: atau 1963, International Peace Research Association (IPRA) terbentuk dalam Quaker International Conference di Clarens, Swiss.
1964: The Japan Peace Research Group berdiri.
1966: Canadian Peace Research and Education Association.
1966: Richard FALK, Saul MENDLOVITZ, dkk mengawali World Order Models Project. Menggalang komunitas internasional, lintas peradaban, lintas disiplin, di bidang pengembangan norma dan lembaga perdamaian, khususnya pada tingkat nasional dan internasional. Falk dkk juga berpengaruh di balik lahirnya jurnal Alternatives dan World Policy Journal, keduanya diterbitkan World Policy Institute.
1960-1970an: Muncullah kelompok yang dikenal sebagai hippies. Mereka adalah pemuda-pemudi Amerika dan Eropa yang menentang perang dan establishment. Fokus mereka adalah turning in to their inner minds (dengan atau tanpa narkoba dan meditasi-meditasi mistik) guna membentuk gaya hidup baru yang tidak mainstream. Di era inilah gerakan antiperang Amerika dan Eropa terjembatani, antara lain melalui bintang-bintang seperti the Beatles, Bob Dylan, Cat Stevens, Joan Baez, dll.
1970-an: Morton DEUTSCH yang psikolog dengan resolution of conflict-nya mengadakan berbagai penelitian eksperimental tentang konflik, perang, dan hubungan antarkelompok.
1972: Jurnal Peace and Change terbit.
1973: Gene SHARP, peneliti dan aktivis perdamaian penulis The Politics of Nonviolent Action (1973) yang terdiri dari tiga volume yang menjadi kitab suci NK. Ia bicara tentang perlunya alternatif terhadap kekerasan dalam menghadapi tirani, agresi, ketidakadilan, dan penindasan; gagasan tentang civilian defense juga terkenal; ia menggunakan sejarah sebagai sumber cara dan teknik aksi NK. Menurutnya, tujuan teknik-teknik NK adalah redistribusi kekuasaan dan desentralisasi kekuasaan.
1973: Asosiasi studi-studi perdamaian Jepang berdiri. Setahun kemudian, 1974, di Jepang berdiri the Asian Peace Research Association (APRA) dan di Mexico berdiri The Latin American Council on Peace Research.
Universitas Bradford, Inggris, membuka program studi perdamaian; sekarang sudah sampai tingkat doktoral.
1970-an: Akhir dasawarsa ini, mulailah Program on Negotiation di Universitas Harvard dan kemudian menerbitkan Negotiation Journal yang berpengaruh. Program training, pendidikan, penelitian, banyak diadakan.
1980-an: Lomba senjata nuklir dan perang dingin melatari meningkatnya secara pesat gerakan perdamaian. Ada yang bilang gerakan awal 1980-an ini lebih besar dan luas dari yang 1960-an. Dokter, artis, mahasiswa, ilmuwan, dan LSM banyak yang terlibat membicarakan bahaya perang nuklir. Keberhasilan mereka pantas dicatat: Selain berhasil membawa isu nuklir yang sebelumnya bersembunyi di dalam kerahasiaan negara ke diskusi publik, dan berhasil pula memperkenalkan dan mempopulerkan aneka tujuan dan metode perlawanan nirkekerasan. Di Indonesia, ada seminar-seminar Polemologi di Universitas Gadjah Mada; sekelompok sarjana dan cendekiawan seperti T. JACOB, Dawam RAHARDJO dll membicarakan perdamaian dunia melibatkan berbagai orang dari disiplin ilmu berbeda.
1984: Peace Review terbit dari Stanford University.
1989: Manifesto Antikekerasan, dinyatakan sekelompok mahasiswa: Taufik Rahzen dkk.
Awal 1990-an, di tengah-tengah wacana masyarakat sipil, gelombang demokratisasi yang menerpa berbagai kawasan dunia, dan democratic zone of peace, dunia dikejutkan oleh kekerasan yang brutal di berbagai tempat: Yugoslavia, Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan lain-lain. Kekerasan dilakukan oleh skinheads, paramiliter, tentara reguler, gangster, atau warga biasa. Kekerasan dan kekejaman mengisi istilah “pelanggaran hak asasi manusia.” Pembedaan-pembedaan lama menjadi kabur, seperti pemerintah-tentara-warga sipil dan perang-tindakan kriminal. Monopoli negara terhadap penggunaan kekerasan juga rusak. Orang kembali ragu, kekerasan dan perang tidak dapat disingkirkan dari hidup manusia.
1996: di bulan Oktober, Jahya MUHAIMIN, T. JACOB, dkk. mendirikan Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) di UGM.
1997: Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fisipol UGM menawarkan mata kuliah Pengantar Studi Perdamaian yang peserta pertamanya 50-an mahasiswa. Kelas diasuh trio Herb Feith (1930-2001), Lance Castles, dan Rizal Panggabean.
1999, bulan Mei, the Hague Appeal for Peace (HAP) yang kedua diadakan (yang pertama 1899). Berbeda dengan yang 1899, yang 1999 ini diadakan oleh masyarakat sipil, tidak pemerintah. Slogan HAP adalah “Time To Abolish War.” Kata seorang teman dari Kanada yang ke sana, media massa dunia dengan sengaja tidak memberitakan peristiwa ini.
2002: Universitas Gadjah Mada membuka program Magister Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar